16
Apr
08

Empire (Stephen Howe, 2002) pt.01

Author: Stephen Howe
Title: Empire (part of the “A Very Short Introduction” series)
Publisher: Oxford University Press, Oxford, UK
Year of Publication: 2002
Status: Draft, In Progress, Unbetaed; Previous Part(s): 00

Pendahuluan: Berita yang saya baca hari ini…

Sebagian besar dari sejarah dunia adalah sejarah mengenai kekaisaran. Bahkan, dapat dikatakan bahwa semua sejarah adalah sejarah imperialisme — atau [sejarah] kolonial, apabila seseorang memilih arti luasnya atau mundur cukup jauh. Karena buku pendek ini hendak mengatakan sesuatu mengenai keseluruhan sejarah manusia, dari jaman yang paling awal dan melingkupi keseluruhan bumi ini, tempat memulai yang paling masuk akal adalah koran hari ini.

‘Hari ini’ adalah hari di mana — saya harap — saya mulai dapat menyelesaikan buku ini, 14 Februari 2002. Sebagai wujud penyempitan pokok bahasan, yang akan coba untuk dihindari untuk selanjutnya, saya membatasi lingkup bacaan saya hanya pada koran-koran besar London yang terbit hari ini; walau saya tentu saja dapat meramban koran-koran dari seluruh dunia, dengan kemampuan berbahasa saya yang terbatas sebagai satu-satunya penghalang. Hal ini adalah karena Internet, sebuah sistem komunikasi yang oleh beberapa kritikus, mungkin dengan terlalu bersemangat, digambarkan sebagai sebuah kekaisaran global yang baru. Tapi, koran-koran Inggris yang lebih bagus menurunkan berita-berita dari seantero dunia — dan tampaknya, dalam satu atau lain perwujudan, hampir semuanya ada sangkut pautnya dengan warisan imperialisme itu.

Bagi banyak orang ‘Barat’, tanggal 14 Februari adalah Hari Valentine, di mana para kekasih saling bertukar kartu ucapan dan hadiah. Kebiasaan ini baru-baru saja mulai marak di India. Tetapi, seperti yang dilaporkan oleh salah satu koran Inggris, para aktivis dari sebuah partai Hindu konservatif, Shiv Sena, melancarkan sebuah protes yang gencar dan agresif menentang kebiasaan ini. Peringatan ini, keluh mereka, adalah hal materialistis yang bodoh dan tidak bermoral. Peringatan ini adalah budaya asing impor, yang tidak ada urusannya dengan budaya (tradisi) atau agama di India, dan bahkan menjadi ancaman [bagi budaya dan agama itu]. Adalah hal yang sangat memalukan bila para pemuda (dan pemudi) Hindu merayakan — walaupun tanpa konotasi keagamaan — sebuah hari/perayaan yang menggunakan nama orang suci agama Kristen. Tetapi para anggota Shiv Sena yang fanatik yang anti-Valentine ini tidak hanya bersungut-sungut mengenai sebuah perayaan yang tidak berbahaya ini. Mereka, paling tidak di mata mereka sendiri, pun sedang menentang kekuatan imperialisme budaya. Santo Valentine, bersama-sama dengan McDonalds, Coca-Cola, musik pop barat, dan moralitas seksual yang ‘longgar’, adalah bagian dari ancaman global terhadap peradaban India. Melawan pengaruh orang suci yang tidak jelas ini adalah perpanjangan dari pergumulan India melawan kekuatan kolonial.

Berita utama The Guardian bunyinya lebih suram. Koran menurunkan berita bahwa Amerika Serikat sedang merencanakan perang baru terhadap Iraq, negaranya Saddam Hussein, sebuah negara dengan siapa Amerika Serikat memiliki konflik berkepanjangan — sebentar ada sebentar tidak — selama lebih dari satu dekade. Penduduk Iraq, dan pengkritik kebijakan Amerika Serikat, secara rutin menggambarkan ancaman dan usaha penyerangan terhadap negara-negara Arab sebagai perwujudan paham imperialisme, beberapa dari mereka menuduh bahwa motivasi utamanya dalah untuk mempertahankan kendali perusahaan-perusahaan multinasional Amerika Serikat atas cadangan minyak di daerah itu. Dari sudut pandang lain disebutkan bahwa Iraqlah, yang dituduh sebagai ancaman permanen bagi tetangga-tetangganya — Iraq pernah sebentar menguasai dan menggabungkan Kuwait sebagai bagian dari Iraq (annexation) pada tahun 1990-1 — yang memiliki ambisi agresif untuk membangun sebuah ‘kekaisaran’. Selain itu, Iraq dan tetangga-tetangganya, berikut dengan lokasi-lokasi perbatasan yang ada di antara mereka, hampir semuanya ada (terbentuk) karena masa lalu kolonial mereka. Mereka dibentuk dari sisa-sisa reruntuhan Kekaisaran Ottoman oleh Inggris dan Perancis pada dekade kedua di abad ke-20 ini.

Sebuah akibat langsung lainnya dari zaman pemerintahan kolonial di Timur Tengah (walau boleh dibilang hanya sebentar) menjadi salah satu pokok bahasan utama di koran-koran hari ini, seperti yang terjadi sepanjang beberapa bulan kebelakangan ini: [tindak] kekerasan antara Israel dan Palestina. Beberapa gelintir orang, terutama yang ada di dunia Arab, melihat keberadaan Israel sebagai sebuah fenomena kolonial. Yang lain menyalahkan Inggris, mantan kekuatan kolonial yang besar, karena sokongan awal yang mereka berikan kepada gerakan Zionis tersebut. Tetapi banyak orang Israel yang memandang kemunculan dan kelangsungan bentuk negara mereka sebagai sebuah kisah antikolonialisme, karena menyangkut perjuangan melawan imperialisme Inggris dan Arab.

Di Istanbul, ahli bahasa dan penggiat aksi politik veteran Noam Chomsky — yang terkenal dengan kritik-kritiknya terhadap ‘imperialisme’ Amerika di seantero dunia — memenangkan gugatan pengadilan menyangkut sensor yang dilakukan oleh pemerintah Turki atas tulisan-tulisannya mengenai masalah suku Kurdi. Hal ini dipandang secara luas — tetapi tidak dari sudut pandang para nasionalis Turki — sebagai satu lagi akibat dari bentuk ‘kekaisaran’, di mana kedukaan suku Kurdi di Turki dan di wilayah lain pada dasarnya berakar dari ketidakberhasilan mereka untuk mencapai suatu kedaulatan nasional ketika sistem imperialisme kuno di wilayah itu terpecah di awal abad ke-20.

Akan tetapi, bagi kebanyakan surat kabar, berita internasional yang paling menonjol adalah berita persidangan mantan pemimpin Yugoslavia, Slobodan Milosovic di Den Haag, atas tuduhan kejahatan perang dalam peristiwa pergolakan Balkan di tahun 1990an. Konflik di mana Milosovic memainkan peranan yang ‘mematikan’ ini, bila dipandang secara luas, juga merupakan warisan dari kekaisaran Ottoman dan Austro-Hungaria yang memerintah di wilayah tersebut hingga sekitar 100 tahun yang lalu. Baru-baru ini, perang yang terjadi di Bosnia dan Kosovo, kejadian yang mendasari pengadilan ini, adalah perang di mana semua yang terlibat — dari Albania yang kecil hingga negara adidaya seperti Amerika Serikat — telah dituduh melakukan tindak agresi imperialisme oleh musuh-musuh mereka masing-masing.

Mahkamah di mana ia sedang diadili, bagi beberapa orang, juga merupakan sebuah bentuk ciptaan kaum imperialis. Bagi mereka, seluruh gagasan mengenai hak asasi manusia yang ‘universal’ adalah sebuah penipuan besar, di mana kaum imperialis Barat atau kekuatan eks-kolonial mencoba untuk mengedepankan gagasan mereka yang terbatas dan setempat mengenai ‘hak’ apa saja yang dapat dianggap ‘universal’, dengan kasar menginjak-injak kepercayaan dan kebudayaan yang lain. Struktur ‘hukum internasional’ itu sendiri dibuat di zaman kolonial, oleh kekuatan kolonial. Hukum tersebut dibuat berdasarkan campuran antara kitab hukum warisan zaman Napoelon, Anglo-Saxon, dan zaman Romawi, hampir tidak memperhitungkan gagasan hukum di luar lingkup hukum Eropa. Akan tetapi, sistem hukum di negara-negara bekas koloni (bekas jajahan) pun dibuat berdasarkan sistem hukum bekas tuan mereka.

Perdana Menteri Inggris Tony Blair baru saja kembali dari kunjungannya ke berbagai bekas koloni Inggris di Benua Afrika. Ketika sedang di sana, ia mendesak wacana di mana semua pihak harus berbuat lebih banyak lagi untuk menyelesaikan berbagai masalah yang mendasar, [terutama] mengenai kemiskinan dan pergolakan, di negara-negara tersebut. Halaman-halaman opini dan kolom surat pembaca dari berbagai surat kabar menampilkan banyak sekali sumbang saran untuk perdebatan — terbaru dari antara banyak sekali pertukaran pendapat selama ini — mengenai sejauh mana kesulitan yang dihadapi oleh Afrika yang berdikari ini adalah kesalahan yang diwariskan oleh sistem kolonial, atau bahkan apakah Afrika sebenarnya akan lebih diuntungkan apabila sistem kolonial diperkenalkan kembali. Koresponden lain, terutama dari harian konservatif Daily Mail, sangat tidak setuju apabila kedaulatan Inggris atas Gibraltar, satu di antara sedikit tanah yang masih di bawah kekuasaannya (dependency), kemungkinan akan dipersempit. Di Zimbabwe, seiring dengan akan diadakannya pemilu, pemerintah [partai yang berkuasa] menuduh partai oposisi utamanya sebagai antek imperialisme dan [oleh karenanya] merupakan ancaman bagi kemerdekaan nasional, tetapi mereka sendiri pun dikatakan telah mengambil [atau merampas] hak pilih warga Zimbabwe berkulit putih — keturunan penduduk kolonial asal Inggris. Halaman khusus berita kematian di koran-koran hari ini juga mengingatkan kita akan keterlibatan Inggris yang cukup panjang dalam sejarah masalah Afrika, karena Maurice Foley, seorang politikus Partai Buruh, anggota parlemen (Westminster), salah satu “Kawan Afrika” yang paling dikenal di era tahun 1950an dan 1960an, telah wafat.

Di saat yang sama, Blair sedang diserang tuduhan bahwa ia menggunakan pengaruh yang berlebihan untuk membantu pengusaha India yang bertempat di Inggris, Lakshmi Mittal, membeli (mengambil alih) kilang-kilang baja bekas milik pemerintah Romania. Hal ini dapat dipandang sebagai suatu peristiwa paska-kolonial dari beberapa sisi. Seorang pengusaha India tentunya tidak akan mengoperasikan sebuah perusahaan yang memiliki kaitan dengan Inggris, maupun memberikan sumbangan kepada sebuah partai politik Inggris, bila dulunya India tidak dikuasai oleh Inggris. Bagi beberapa kritikus, pembelian pabrik-pabrik usang di Romania oleh perusahaan ‘Barat’ ini adalah suatu bentuk imperialisme ekonomi. Bagi yang lain, bahwa pabrik-pabrik di Romania ini kemudian menjadi usang adalah akibat dari kesalahan jenis ‘kekaisaran’ yang satu lagi, yang sekarang sudah tidak ada lagi, ‘kekaisaran’ Komunis Soviet. Ada lagi mereka yang berkata bahwa tradisi politik Inggris yang terlalu terpusat, dan memberikan kuasa eksekutif yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, yang memungkinkan Tuan Blair untuk melakukan apa yang dituduhkan di atas, melakukannya tanpa berunding dengan yang lainnya, juga merupakan warisan sebuah ‘kekaisaran’. Sesuai dengan pandangan ini, kebiasaan pemerintahan otokrasi yang dulu digunakan untuk menguasai ‘kaum mereka’, kaum ‘terjajah’ di bagian dunia lain, masih menghantui ‘kaum kita’ yang ada di tanah asal. Inggris itu sendiri, menurut kalangan tertentu, adalah koloni terakhir dari Kerajaan Britainia Raya.

Parlemen Skotlandia, menggunakan hak legislatif mereka (yang ‘diambil’ daripadanya sekitar 300 tahun sebelumnya, dan baru sebagian diperoleh kembali pada tahun 1998), sepakat untuk melarang perburuan rubah. Orang-orang yang menyukai pengisi waktu senggang yang ‘barbar’ ini — suatu kebiasaan yang mungkin didatangkan ke Kepulauan Britania Raya oleh para penyerbu Normandia dan Romawi, dan mungkin pada mulanya didapat dari kebiasaan para nomaden di wilayah Asia Tengah yang membangun sebuah kerajaan yang luas, namun hanya bertahan sebentar, yang menguasai sebagian besari wilayah Eurasia 1,500 tahun yang lalu — menjadi marah. Tetapi orang-orang yang betul-betul antusias seperti itu jumlahnya tidak banyak di Skotlandia. Banyak orang Skotlandia yang beranggapan bahwa berburu rubah itu adalah kegiatan orang Inggris, dan bukan kegiatan yang murni dari Skotlandia — dan pengaruh Inggris atas Skotlandia, secara budaya dan juga secara politis, selalu dipandang sebagai suatu jenis kolonialisme.

Selusin cerita mengingatkan siapa saja yang butuh diingatkan bahwa kehidupan para migran dari bekas koloni Inggris terlihat di seluruh segi kehidupan di Inggris. Persidangan atas pembunuhan seorang siswa kelahiran Nigeria sedang berlangsung, pernyataan seorang model berkulit hitam bahwa sebuah surat kabar telah melanggar keleluasaan pribadinya, dan dugaan adanya aktivitas terorisme yang dilakukan oleh kalangan Islam Inggris militan, kebanyakan dari mereka adalah orang Pakistan. Seorang anggota parlemen kelahiran India harus meminta maaf kepada koleganya karena melanggar peraturan parelemen — dan, mungkin secara tidak relevan menggarisbawahi pernyataannya dengan pengakuan bahwa ia sangat bangga akan latar belakang etnisnya. Kenyataan bahwa banyak sekali dari berita (atau cerita) yang menyangkut masalah kriminal dan perbuatan melanggar hukum lainnya mungkin menunjukkan bahwa beberapa segi multirasialisme di Inggris selepas masa kolonialisme masih memiliki banyak masalah. Tetapi halaman-halaman ulasan seni dan olah raga di koran-koran tersebut memberikan gambaran yang lebih positif dan lebih seimbang. Darius Vassell adalah sebuah sukses yang luar biasa bila dibandingkan dengan keseluruhan penampilan regu sepak bola Inggris dalam pertandingan melawan Belanda. Baik Vassell dan ‘anak baru’ di regu Inggris lainnya, Michael Ricketts, adalah keturunan imigran kolonial, begitu juga tiga lagi anggota regu sepak bola itu. Di sisi dunia yang lain seseorang dengan latar belakang yang sama, Nasser Hussein, sedang menjalankan tugasnya sebagai kapten regu Inggris yang tengah berjuang melawan Selandia Baru pada permainan yang seyogyanya disebut ‘permainan imperialis’, cricket. Sementara itu, halaman seni dari surat kabar ultra-konservatif, Daily Telegraph menurunkan berita wawancara tiga penyanyi wanita keturunan Jamaica, kelompok vokal Mis-Teeq, yang mereka sebut sebagai ‘Pendatang Baru Terbaik Inggris’ untuk kategori musik pop.

Gaung sebuah kerajaan terjadi pula dalam berbagai tingkatan imajinasi dan metafora. Nominasi piala Oscar diumumkan. Mengungguli semuanya adalah adaptasi karya J. R. R. Tolkien Lord of the Rings, sebuah karya fantasi besar yang mengetengahkan cerita tentang kerajaan-kerajaan yang saling bertentangan, pertemuan dengan budaya-budaya asing, dan sebuah kekuatan jahat yang berusaha untuk menguasai dunia. Seorang polisi Inggris yang cukup senior dikutip mengatakan bahwa salah seorang koleganya yang namanya tercoreng itu telah mengoperasikan sebuah ‘kerajaan keji’ di antara polisi-polisi lokal di Cleveland.

Walaupun sistem-sistem imperial yang agung sepanjang sejarah — baik itu yang dilakukan melalui perluasan darat seperti Kekaisaran Rusia maupun kerajaan kelautan negara-negara Eropa Barat — telah mulai runtuh selama setengah abad terakhir, warisan zaman mereka telah membentuk hampir semua unsur kehidupan manusia secara global. Sementara itu, ada sebuah perdebatan yang sengit — serta banyak dugaan (spekulasi) — mengenai apa yang telah mengambil alih kedudukan kekaisaran teritorial tua ini di kancah politik dunia. Apakah Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, perusahaan transnasional, institusi keuangan dan media, atau kekuatan ‘globalisasi’ secara luas, dapat disebut sebgai sistem imperial baru? Mencoba meliputi bidang bahasan yang luas ini, saya akan mencoba, dalam buku yang kecil ini, untuk mengulas tiga hal yang saling terangkai:

Pertama, menyampaikan arti ‘gagasan sebuah kekaisaran’ (secara luas, tentunya!) sepanjang abad dan menyebrangi benua, bagi pemerintahannya, bagi pengikutnya, dan juga pengamat selanjutnya.

Kedua, sebuah esai untuk menjernihkan pengertian dan alur sejarah: berusaha, tanpa berusaha terlalu mengkotak-kotakkannya, mengurai penggunaan dan penyalahgunaan istilah ‘kekaisaran’, ‘imperialisme’, ‘kolonialisme’, ‘kolonisasi’, ‘neo-kolonialisme’, dll, yang beragam itu.

Ketiga, membuat inventaris tentang perwujudan selanjutnya dari imperialisme, perwujudan yang beragam dan kadangkala menakjubkan: baik dalam dunia geopolitik yang ‘nyata’ dan berbagai bidang intelektual yang menyangkut pembelajaran dan pembahasan mengenai kolonialisme dan hal-hal yang datang setelahnya (“paska-”).

I’m so very, very confused. Apologies, then. Here, you can see a grab-bag of terms being bandied about as if without care… But it’s not without care, but it’s more about me being unable to figure out what’s best for each term. How do you describe British “Inggris” and England “Inggris” without sounding very odd? Should I say colonialism as “penjajahan” instead of putting a “k” in place of the “c”? And let’s not start with the discrepancies about the term I used for the word “empire”. I have a feeling that this isn’t going to go down well.

You see, a better translator than I am wouldn’t be faced with this kind of problem. *sigh* Maybe I’m not cut out for this job. But, then again, being the contradiction that I am, has inadequacy stopped me from inflicting myself upon other people before? One day I will learn to stop this destructive impulse. But for now, please bear with me and throw as many bones as you can at me, if you please?

Anyway, that’s the end of the Introductory chapter.


0 Responses to “Empire (Stephen Howe, 2002) pt.01”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply